BANDENG SAMBAL LUNAK

POTENSI DESA KETAPANG

Potensi yang satu ini digagas oleh Putra Kelahiran Desa Ketapang Kecamatan Ulujami Kabupaten Pemalang Jawa Tengah, Hadi Widodo yang sekarang ini tinggal di Yogyakarta bersama istri dan kedua anaknya. Pak Hadi tidak lain adalah adik dari Kepala Desa Ketapang itu sendiri, Usaha yang ditekuninya selama ini sebagai pemandu wisata dunia, untuk lebih jelas kita simak saja wawancara Pak Hadi Widodo dengan Apindo (Asosiasi pengusaha Indonesia) berikut ini:

Pak Hadi, saat ini bekerja sebagai paruh waktu pemandu wisata, dunia yang sudah cukup lama ditekuninya lebih dari 15 tahun. Keseharian Pak Hadi bertemu dengan wisatawan, agen travel, manajemen hotel dan pemilih restoran membersitkan ide di benaknya untuk merintis usaha berbasais ikan. Latar belakang keluarga Pak Hadi cukup mendukung. Sebagai anak yang dilahirkan di Pemalang, kawasan pantura, yang merupakan daerah penghasil bandeng tersebsar di sepanjang Pantura. “Sebagaian besar keluargaku berkecimpung di bidang perbandengan. Sebagian sebagai pemilik tambak dan lainnya bakul ikan,” ungkapnya kepada Apindo.
“Jika pulang kampong saya biasanya bawa oleh-oleh udang, cumi-cumi atau ikan bandeng goreng dan bandeng presto”,tambahnya.
Bagaimanakah sampai tertarik untuk usaha di bidang ini pak, tanyaku. Padahal saat ini keadaan ekonomi Pak Hadi sudah cukup mapan. Salah satu anaknya sudah lulus dari jurusan Hubungan Internasional UGM dan satunya masih di bangku SMA. Rumah dan kendaraan juga sudah berhasil dia peroleh dari profesinya tersebut.
Pada lebaran tahun 2016 bos kantor Pak Hadi pesan bandeng presto cukup banyak. Beliau ingin membagikan bingkisan lebaran tidak roti, tapi bandeng presto. “Lalu saya berpikir, mungkinkah usaha bandeng presto ini ditekuni sebagai usaha? Lalu saya mulai melangkah untuk mewujudkannya”, katanya.
Sebagai orang yang sudah berpengalaman di dunia jasa wisata, Pak Hadi cukup jeli bahwa pelanggan itu sangat memperhatikan soa kemasan. Pun saat mengawali usaha bandeng prestonya ini, kemasan sangat ia perhatikan. Tidak tanggung-tanggung, Pak Hadi memesan kemasan dus full colour dengan kualitas yang baik. Kemudian ikannya juga di press dalam plastik, walaupun masih perlu peningkatkan.
Langkah kedua  adalah dengan memperhatikan kualitas produk supaya bandeng tidak remuk jika digoreng, bagaimana tingkat asinnya diterima konsumen, gurihnya bisa cocok dengan selera pembeli.
Langkah ketiga Pak Hadi mulai menawarkan dari pintu ke pintu produknya. Untuk saat ini jangkauannya memang baru ke relasi dan teman-temannya. “Kadang ada teman yang mengundang saya agar dibawakan ke kantornya supaya temannya beli”, katanya. Ada juga teman Pak Hadi yang hobi jualan, turut membantu menjualkan produknya. Langkah ini sudah ada hasilnya paling tidak ada beberapa yang menjadi pelanggannya antara lain  staf dan karyawan di Universitas Ahmad Dahlan, karyawan BNI, Karyawan Hotel Hyatt, Karyawan Hotel Pessona, karyawan relasi agen tour
Saat ini kapasitas penjualan belumlah banyak, dalam satu minggu terjual kurang lebih 50 dus kemasan 1 kg. Sementara itu Pak Hadi yakin potensi pasarnya masih relatife besar untuk lingkup DIY. Dalam setiap usaha tentu ada tantangannya, sepeti yang dirasakan Pak Hadi. Salah satunya adalah masyarakat DIY masih kurang familiar dengan ikan bandeng. Ikan yang ada di pasaran kebanyakan bandeng yang sudah diasingkan dengan tingkat kualitas yang rendah.
“Yang di pasar biasanya ukuran kecil dan bau tanah”, ungkap Pak Hadi. Sehinga ini menjadi peluagnya untuk menjual ikan bandeng dengan ukuran 300gram per ekor. Kendala yang lain adalah soal pemasaran. Pak Hadi merasa tidak memiliki cukup kapasitas untuk memperluas jangkauan pasar. Saat ini ia mulai melirik pemasaran daring atau online. Pak Hadi tertarik dengan pemasaran melalui medsos yang akhir-akhir ini cukup marak.
Peluang yang dilihat Pak Hadi adalah produk ini belum banyak pesaingnya di Jogja. Dia mengamati hanya ada satu toko bandeng presto di dekat Pakualaman. Sementara itu untuk memperoleh bahan mentah bagi Pak Hadi adalah hal mudah karena keluarganya berbisnis bandeng dari macam-macam lini.
Harapan Pak Hadi usaha yang dirintisnya ini bisa berkembang dengan jaringan pemasaran yang bagus. Kemudian tentu harus menambah jumlah karyawan di bagian pemasaran atau berkolaborasi dengan pihak lain. Target penjualannya adalah 100 dus per hari. Sehingga pada masa tuanya usaha ini bisa menjadi “jagan” pensiunnya.

Tinggalkan Balasan